Rabu, 22 Mei 2013

buddha di india

disusu oleh Herman Teguh Irawan
Pendahuluan
Dalam alur sejarah agama-agama di India, zaman agama Buddha dimulai semenjak tahun 500S.M.hingga tahun 300 M. Secara historis agama tersebut mempunyai kaitan erat dengan agama yang mendahuluinya, namun mempunyai beberapa perbedaan dengan agama yang mendahuluinya dan yang datang sesudahnya ,yaitu Hindu.
Secara garis besar ajaran agama Budha dapat dirangkum dalam tiga ajaran pokok, yaitu Budha ,dharma,dan sangha. Ajaran tentang  Buddha menekankan pada bagaimana umat budha memandang sang Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha dan asas rohani yang bisa dicapai oleh setiap makhluk  hidup. Pada perkembangan  selanjutnya  ajaran tentang Buddha ini berkaitan pula dengan masalah ketuhanan yang menjadi salah satu ciri ajaran semua agama. Ajaran tentang dharma banyak membicarakan tentang masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam hidupnya, baik yang berkaitan  dengan ciri manusia sendiri maupun hubungannya dengan apa yang disebut Tuhan dan alam semestadengan segala isinya.  Ajaran tentang sangha, selain mengajarkan bagaimana umat Buddha memandang sangha sebagai pasamuan para Bhikkhu,juga berkaitan dengan umat Buddha yang menjadi tempat para Bhikkhu menjalankan dharmanya, baik ditempat kelahirannya di India maupun ditempat agama tersebut berkemabang.
Berdasarkan paparan diatas, uraian dalam tulisan ini akan mencoba  membahas agama Buddha dari ketiga pokok  ajarannya dengan  penggambaran sekilas, tidak begitu mendalam, tetapi diharapkan dapat memberikan gambaran yang agak lengkap dengan agama tersebut.

A.   Agama Budha di India

Sejarah perkembangan agama Budha di India setelah Budha Gautama wafat dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu(a). Masa Perkembangan Awal hingga pasamuan Agung kedua, (b).Masa kekuasaan Raja Ashoka,dan (c).Masa kemunduran Agama Budha di India, Secara singkat masing-masing periode tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
Ø  Masa Perkembangan Awal
Beberapa minggu setelah Buddha meninggal dunia segera terjadi perbedaan-perbedaan pendapat di kalangan para pengikutnya, terutama karena dia tidak
[1]meninggalkan ajaran yang tertulis dan tidak menunjuk seseorang sebagai penggantinya. Sekelompok Bhikkhu berusaha merubah aturan yang telah di tetapkannya karena terasa berat dilaksanakannya dan dipertahankan, sementara lainnya berusaha untuk memelihara kemurnian ajarannya. Kelompok terakhir ini kemudian memutuskan untuk mengadakan pasamuan guna untuk membahas masalah-masalah berkembang waktu itu, terutama yang menyangkut ajaran-ajaran (dharma) .
Seratus tahun kemudian munculpula sekelompok Bhikkhu yang menghendaki agar beberapa peraturan dari vinaya yang mereka anggap keras dan membosankan rubah dan diperlunak.Untuk menanggapi tuntutan ini kemudian diselenggarakan pasamuan agung kedua di Vesali. Pada Pertemuan ini terbukti bahwa kelompok yang ingin tetap mempertahankan kemurniyan vinaya berjumlah lebih kecil dari pada kelompok yang menginginkan perubahan-perubahan. Kelompok pertama kemudian menamakan diri dengan stavirada, yang kelak disebut Theravada; sedang kelompok bhikkhu yang menginginkan perubahan dengan menamakan diri dengan Mahasanghika.
Setelah pasamuan agung kedua tersebut, untuk selama 100 tahun tidak banyak yang diketahui tentang perkembangan agama Buddha di India, terutama setelah raja kalasoka meninggal dunia. Baru dengan munculnya Raja Asoka dari dinasti Maurya, sekitar 272 S.M. agama Buddha memperlihatkan  perkembangan yang sangat pesat ke seluruh India.[2]
Ø  Masa Kekuasaan Raja Asoka
Asoka Adalah Seorang raja dan panglima perang yang hampir meluaskan kekuasaan hampir keseluruh India. Tetapi setelah memeluk agama Buddha, ia menyesali perbuatan-perbuatannya itu, dan kegiatannya kemudian diarahkan untuk menyebarkan dan mengembangkan agama yang dipeluknya, disamping usaha-usaha lain untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Dalam masa pemerintahannya, agama Buddha berkembang menjadi agama yang berpengaruh  diseluruh India dan mempunyai peranan dalam berbagai bidang kehidupan ,baik sosial,kebudayaan,ekonomi maupun politik.
Salah satu usahanya yang dianggap penting bagi sejarah perkembangan agama Buddha adalah pembuatan piagam-piagam yang dipahatkan pada tugu-tugu batu atau lereng-lereng gunung yang ditandatanganinya, Piagam itu berisi anjuran kepada rakyatnya agar hidup sesuai dengan ajaran-ajaran sang Buddha,penyesalannya atas peperangan yang dilakukannya,dan anjuran agar menghormati agama lain. Dibawah kekuasaan raja Asoka ini pula diadakan pasamuan agung ketiga pada tahun 249 S.M. di Pataliputra ,yang dimaksudkan untuk meneliti kembali ajaran-ajaran Buddha serta mencegah penyelewengan-penyelewengan yang mengakibatkan perpecahan dalam sangha. Diduga pasamuan ini hanya diikuti oleh golomgan Theravada saja karena kitab-kitab mahayana tidak menyebutkannya. Hal ini memperlihatkan bahwa pada waktu itu perpecahan antara kedua golongan tersebut sudah cukup besar dan meluas.
Dalam pasamuan agung keiga tersebut mulai tersusun kitab Abhidharma pitaka yang merupakan bagian dari Tripitaka, serta tersusunnya kitabTripitaka sebagaimana yang dapat dilihat sekarang ini, sungguhpun belum dituliskan kedalam kitab-kitab dan masih dihafalkan saja. Menjelang pertemuan berakhir, atas anjuran raja Asoka, diputuskan untuk mengirimkan utusan- utusan ke berbagai negara untuk menyebarkan Dharma, antara lain kesiria,Mesir,Yunani  Macedonia, India belakang dan asia tenggara. Salah seorang utusan yang dikirim itu adalah Mahinda, putra raja Asoka sendiri, ke Srilangka yang hingga sekarang merupakan salah satu pusat agama Buddha yang penting diDunia.
Seteah Asoka meninggal dunia pada tahun 233 S.M, kerajaannya terpecah belah menjadi beberapa negara bagian,dan pada tahun 158 S.M kekuasaan dinasti Maurya digantikan oleh dinasti Songa. Sejalan dengan itu perpecahan antara golongan staviravada Mahasanghika juga semakin meluas, yang pada gilirannya mempengaruhi  pula cara pemahaman terhadap ajaran agama Buddha. Petunjuk perpecahan tersebut terlihat dalam pelaksanaan pasamuan agung keempat yang dinilai berbeda oleh kedua belah pihak . Golongan Theravada menyatakan bahwa pasamuan tersebut dilaksanakan diAluvihara Srilangka sekitar tahun 83s.m dan memutuskan kitabTripitaka ditulis untuk pertama kalinya dengan tujuan agar semua orang mengetahui kemurnian dharma dan vinaya. Golongan mahayana menyebutkan bahwa pasamuan tersebut diadakan pada abad pertama Masehi  di bawah lindungan raja Kaniska dari Afghanistan.
Benih pertumbuhan golongan Mahayana sebenarnya sudah ada sejak pasamuan agung pertama ketika umat Buddha mulai terpecah menjadi dua golongan besar, yaitu Staviravada dan Mahasanghika. Tetapi baru kira2 pada awal abad pertama Masehi golongan Mahayan muncul ke permukaan sejarah terutama setelah terbitnya buku Mahayana sraddha utpada, karangan as Vagosha,yang berisi pokok-pokok ajaran Buddha  Mahayana. Di tangan Mahayana, agama Buddha mengalami beberapa perubahan. Pengertian tentang sang Buddha, yang semula dianggap sebagai manusia yang telah mencapai pencerahan yang tinggi, kemudian berkembang menjadi prinsip universal yang bermanivestasi dalam wujud makhlu-makhluk luhur Dyani Buddha. Cita-cita seorang pemeluk agama Buddha yang semula hanya untuk mencapai tingkat arahat, yaitu manusia yang dengan usahanya sendiri mencapai kebebasan, kini berkembang menjadi cita-cita menjadi Boddhisastava, yaitu Makhluk-makhluk luhur dengan cinta kasih, kekuatan dan kekuasaan yang dapat menyelamatkan manusia lain. Pengertian ini menimbulkan praktek-praktek pemujaan dan kebaktian serta ajaran tentang pahala dan penyelamatan melalui percaya sebagai ciri agama yang mengutamakan bakti.
Terjadi pula pergeseran ajaran-ajaran pokok,seperti anitya,anatma Hasta Arya Marga. Dua yang pertama menjadi ajaran tentang  sunyata, atau kekosongan, yaitu bahwa segala sesuatu di alam semesta ini pada hakikatnya adalah kekosongan. Ajaran Dukkha tergeser ke belakangan dan berubah menjadi ajaran tentang kebahagiaan dan kenikmatan di alam surga. Ajaran untuk berusaha sendiri seperti yang terlihat dalam HastaArya Marga berkembang menjadi ajaran yang memuja dan memohon kepada Sang Budha.[3]
Akibat dari perkembangan-perkembangan di atas agama Budha berubah ke bawah,ia menjadi agama yang mengutamakan pemujaan disesuaikan dengan alam pikiran keagamaan kebanyakan orang India waktu itu, sehingga menjadi berkembang dan meluas dikalangan rakyat kecil tetapi dangkal segala-galanya dan keatas,agama budha mendorong tumbuhnya pemikiran yang tinggi dalam bidang metafisika dan filsafat.
Perkembangan Budha Mahayana yang pesat tidak terlepas dari peranan tokoh-tokohnya, seperti Asvagosha, Cantideva, Nagarjuna, Aryasangha dan arya dewa. Tiga yang tersebut akhir dipandang sebagai”tiga matahari Mahayana” terutama karena jasa mereka menyebarkan ajaran Mahayana keberbagai daerah di Asia.Kitab-kitab yang ditulis tokoh-tokoh tersebut kemudian dipandang sebagai kitab suci dalam aliran Budha Mahayana .Diantaranya adlah madyamika,karya nagaryuna, yang berisi ajaran mistik dan metafisika menurut  faham Mahayana seperti terdapat dalam rumusan “delapan tiada”,yaitu; tiada pembentukan, tiada penghancuran, tiada pelenyapan, tiada kekekalan,tiada kesatuan dan keanekaragaman,tiada yang datang dan pergi.
Aryasangha bersama-samaVasubandhu, mendirikan sesuatu aliran yang disebut yogacra. Inti ajarannya ialah bahwa segala sesuatu kecuali kesadaran adalah tidak nyata. Yang mutlak adalah cita atau pikiran, terutama kalau dilihat dari seorang yogin yang apabila berhadapan dengan yang mutlak akan melihat dalam bagian hidupnya yang terdalam satu percikan yang terang. Seseorang berbuat sesuatuyang tidak nyata itu sebagai nyata dan dia harus berbuat bahwa seoalah-olah yang tidak nyata sebagai kenyataan,sebagaiman dia memahami derita orang lain sebagai deritanya sendiri dengan tujuan menolong orang lain. Kesadaran tersebut bersumber pada yang tunggal tersebut.Manifestasi kesadaran tersebut terlihat dalam doktrin trikaya, Dimana hakikat yang tunggal terwujud dalam tiga tingkatan yang makin lama makin besar. Pendekan kepada yang tunggal itu melalui tiga tingkatan yaitu realisme umum, Relativitas dari segala sesuatu pengertian sempurna bahwa dunia ini itu perwujudan dari inti kesadaran murni.Manusia mencapai hikmat tertinggi jika ia sudah dapat melihat sesuatu sebagai khayalan. Perwujudan itu biasanya diliha sebagai sesuatu lingkaran biru,atau sesuatu rangka yang melalui khayalan dan dipandang sebagai pikiran atau cita-cita. Oleh karena itu sunia adalah sesuatu impian yang tidak memiliki kenyataan.
Aliran Agama Budha Mahayana memegangi ajaran-ajaran pokok agama Budha sebagaimana umumnya dipegangi pula oleh aliran lainny. Hanya saja, Mahayana Mengembangkannya melalui pandangan filsafat yang secara metodologis berbeda dengan aliran Theravada.
Ø  Kemunduran Agama Budha di India

 Setelah mengalami perkembangan yang mengesankan di India selama lebih kurang lima abad, Akhirnya agama Budha mengalami kemunduran, baik dari segi kualitas maupun kwantitasnya. Pada abad ketujuh Masehi, kemerosotan tersebut semakin meluas di India, antara lain disebabkan oleh serangan bangsa Hun Putih dari utara yang banyak menghancurkan pusat-pusat peribadatan agama Budha. Usaha untuk mengatasi kemunduran tersebut juga ada, seperti yang dilakukan oleh kaisar Harsya(606-647M), namun kemunduran itu agaknya sudah tidak dapat dicegah lagi.
Dari laporan perantau china seperi fa hsien (399-414M) Hsuan chuang dan i’tshing, dapt diketahui bahwa jumlah wihara di india semakin berkurang dan pengalaman serta penyebaran agama Budha semakin kendor.Agama Budha semakin lama semakin bersifat India lama dengan semakin banyaknya unsur asli India yang masuk kedalam  agama tersebut. Di samping itu, muncul kembali persaingan dengan agama Brahmana yang dimulai bangkit,setelah sempat terdesak oleh agama Budha untuk jangka waktu yang cukup lama. Akan tetapi, yang paling terparah dari semua itu adalah rusaknya kebatinan ajaran agama Budha dan perkembangan Islam yang mulai menyebarkan ajarannya ke timur sejak abad ke delapan Masahi.
Akibat dari hal-hal di atas, aliran Theravada dan Mahayana lambat laun tersingkir dari tanah kelahirannya sendiri terutama karena peranan sangha yang cukup besar dalam penyebaran agama Budha selama ini menjadi jauh berkurang sejak abad ketujuh Masehi tersebut. Kemunduran peranan sangha ini antara lain disebabkan banyaknya unsur non-buddhis yang masuk ke dalam. Agama Budha, sehingga menyebabkan merosotnya penghargaan rakyat terhadap sangha dan mengakibatkan berkurangnya dana yang diterimanya.
Namun, kemunduran agama Budha di India dapat dipandang sebagai terbukanya kesempatan bagi agama tersebut untuk berkembangdi luar India,dengan membentuk pusat-pusat agama baru di luar India, baik dari aliran Theravada maupun Mahayana, Sebagaimana secara singkat akan diuraikan berikut.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perkembangan agama Buddha tidak bisa lepas dari usaha-usaha Dharmaduta-Dharmaduta yang berjuang keras dalam mengembangkan agama Buddha. Raja Asoka termasuk salah satu raja yang aktif dalam mengembangkan agama Buddha dengan mengirimkan Dharmadutanya ke berbagai penjuru dunia. Dalam perkembangannya agama Buddha menjumpai tidak sedikit halangan termasuk dari berbagai agama bahkan dari aliran-aliran agama Buddha sendiri demi untuk kepentingan mereka pribadi.
Agama Buddha mengalami kemunduran di India yang merupakan tempat lahirnya Agama Buddha, dikarenakan mulai kembalinya pengaruh dari agama Brahma dan terpecahnya agama Buddha menjadi beberapa aliran atau sekte yang saling mempertahankan pendapatnya dan kitab yang digunakannya. Saat ini agama Buddha mulai menggema kembali di dunia, terutama di barat dimana orang-orang barat ingin mencari hal-hal yang bersifat spiritual yang di dunia barat sendiri sulit untuk mendapatkannya. Sehingga mereka mencarinya ke daerah timur (asia) yang sejak dulu terkenal dengan pusat-pusat spiritualnya dan tokoh-tokoh agamanya. Dalam perkembangan agama buddha didunia sekarang ini sangat prsat sekali dibanding zaman yang dulu terutama dibelahan bumi bagian barat (Amerika dan eropa). Orang-orang dibarat saat ini lebih menyukai spritual dan filsafat orang-orang timur, dimana terjadi kebalikanya oarang timur lebih menyukai hal-hal yeng bersifat modern dan kapitalis yang dimiliki orang barat


DAFTAR PUSTAKA

  • Conze,Edward,Sejarah Singkat Agama Buddha,Karaniya, Jakarta, 2010.cet. I
  • Memahami buddhayana, Bandung. 1995. cet. 50
  • Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Citra Mandala Pratama, Jakarta. 2004. cet :11
  • Wahyono Mulyadi. 1995. Sejarah perkembangan Agama Buddha. Jakarta: Dirijen Bimas Hindu Buddha
  • Salaby, Ahmad, Agama Besar Di India, Jakarta : Bumi Aksara, 1998.
·          Mukti Ali (agama-agama dunia).








1 Ali mukti.Agama-agama Dunia,h.133
[3] Mukti ali.Agama-agama Dunia.h,136

0 komentar:

Poskan Komentar