Jumat, 17 Mei 2013

Ajaran-Ajaran Agama Buddha

disusun oleh Anisa Khalida

Pendahuluan
Ajaran yang disampaikan kepada manusia oleh Buddha sangat erat hubungannya dengan agama-agama yang ada sebelumnya, oleh karena itu ajaran Buddha merupakan faham yang bertujuan untuk mereform atau memperbarui ajaran Hinduisme dimana pendeta-pemdetanya saat itu sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Ajaran Buddha mengandung background social-religius pada saat itu. Nama Buddha itu sendiri menunjukan arti “seorang yang bangun atau yang disadarkan” untuk mengadakan reformasi tradisi agama yang telah ada.[1]
Pengertian Buddha, Dharma, dan Triratna
·         Pengertian Buddha
Buddha berasal dari bahasa sansekerta  budh berarti menjadi sadar, kesadaran sepenuhnya; bijaksana, dikenal, diketahui, mengamati dan mematuhi. (Arthur Antony Macdonell, practical Sanskrit Dictionary, Oxford University Press, London, 1965).
Tegasnya Buddha adalah seseorang yang telah mencapai penerangan atau pencerahan sempurna dan sadar akan kebenaran kosmos serta alam semesta. “Hyang Buddha’’ adalah seorang yang telah mencapai penerangan luhur, cakap dan bijak menuaikan karya-karya kebajikan dan memperoleh kebijkasanaan kebenaran mengenai nirvana serta mengumumkan doktrin sejati tentang kebebasan atau keselamatan kepada dunia semesta sebelum parinirvana.
Hyang Buddha yang berdasarkan sejarah bernama Shakyamuni pendir Agama Buddha. Hyang Buddha yang berdasarkan waktu kosmik[2] ada banyak sekali dimulai dari Dipankara Buddha.[3]
·         Pengertian Dharma
Hukum kebenaran, Agama, hal, hal-hal apa saja mengenai agama Buddha. Berhubungan dengan ajaran agama Buddha sebagai agama yang sempurna.
Dharma mengandung 4 (empat) makna utama:
1.      Doktrin
2.      Hak, keadilan, kebenaran
3.      Kondisi
4.      Barang yang kelihatan atau phenomena
Buddha Dharma adalah suatu ajaran yang menguraikan hakekat kehidupan berdasarkan pandangan terang yang dapat membebaskan manusia dari kesesatan atau kegelapan  batin dan unsure-unsur agama, kebaktian, filosofis, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susial, etika dan sebagianya.
·          Triratna
Seorang telah menjadi umat Buddha bila ia menerima dan mengucapkan Triratna (Skt) atau tiga mustika (Ind) yang berarti Buddha, Dharma, Sangha. Pada saat sembahyang atau kebaktian didepan altar Hyang Buddha. Triratna secara lengkap diucapkan dengan tenang dan khusyuk sampai tiga kali atau disebut trisarana. Trisarana adalah sebagai berikut:
Bahasa Sansekerta
      Buddhang Saranang Gacchami
      Dharmang Saranang Gacchami
      Sanghang Saranang Gacchami
     
      Dwipanang Buddhang Saranang Gacchami
      Dwipanang Dharmang Saranang Gacchami
      Dwipanang Sanghang Saranang Gacchami

      Tripanang Buddhang Saranang Gacchami
      Tripanang Dharmang Saranang Gacchami
      Tripanang Sanghai Saranang Gacchami
Bahasa Indonesia:
      Aku Berlindung kepada Buddha
      Aku Berlindung kepada Dharma
      Aku Berlindung kepada Sangha

      Kedua kali Aku Berlindung kepada Buddha
      Kedua kal Aku Berlindung kepada Dharma
      Kedua kali Aku berlindung kepada Sangha

      Ketiga kali Aku Berlindung kepada Buddha
      Ketiga kali Aku Berlindung kepada Dharma
      Ketiga kali Aku Berlindung kepada Sangha[4]
Jadi dalam kesaksian tersebut, nampak adanya sikap peneyerahan diri kepada Buddha, kepada Dharma (hukum-hukum yang telah diberikan oleh Budha) dan kepada sangha yaitu golongan pendeta yang hidupnya memelihara kelangsungan upacara agama yang pada umumnya tinggal dibiara-biara.
Pengakuan pada Dharma berarti mempercayai kebenaran hukum-hukumnya dengan kewajiban menjalankan dasar-dasar ajaran kelepasan hidup serta peraturan-peraturan lainnya. Dasar-dasar ajaran kelepasan tersebut adalah yang disebut Arya- satyami (Arya: utama Satyami : kebenaran yang terdiri dari 4 kenyataan hidup sebagai berikut:
1)      Bahwa dalam kehidupan di dunia ini penuh dengan hal-hal yang menyedihkan dan kesengsaraan, maka disimpulkan bahwa hidup itu menderita.
2)      Bahwa manusia berada oleh karena mempunyai nafsu keinginan untuk berada (hidup). Keadaan hidupnya itu adalah penderitaan karena terikat oleh samsara (menjelma berkali-kali).
3)      Jika tidak lagi punya nafsu keiginan: maka penderitaan samsara dapat dihilangkan yaitu dengan memadamkan nafsu keinginan tersebut (tresna).
4)      Cara menghilangkan nafsu keinginan itu ialah melakukan 8 jalan kebenaran (disebut dengan Astavidha) yang terdiri dari:
a.       Mengikuti pelajran yang benar.
b.      Melaksanakan niat (keinginan) yang baik.
c.       Mengucapkan perkataan yang baik dan tepat.
d.      Menjalankan usaha yang baik (halal).
e.       Melakukan pekerjaan yang baik.
f.       Memusatkan perhatian dengan baik.
g.      Mencari nafkah dengan baik.
h.      Melakukan tafakur dengan baik.
Dengan dasar Aryasatyami tersebut dapat diketahui bahwa agama Buddha mendidik pengikut-pengikutnya untuk berhati-hati serta bersungguh-sungguh dalm menjalankan suatu kewajiban atau pekerjaan mengingat bahwa dunia sekitar manusia ini dianggap penuh dengan hal-hal yang dapat mencelakakan karena ada 3 anasir keduniawian:
1)      Adanya Kama, yakni nafsu cinta.
2)      Adanya Dwesa, yakni rasa benci kepada orang lain.
3)      Adanya Moha, yakni mabuk (dalam segala bentuknya)
Untuk menegakan Dharma, maka pengikut-pemgikut Buddha pada umumnya wajib menjauhi larangan-larangan dalam hal-hal sebagai berikut:
1)      Dilarang melakukan pembunhan terhadap semua makhluk (misalnya peperangan dan sebagainya).
2)      Dilarang melakukan pencurian atau perampokan atau penyerobotan dan sebagainya.
3)      Dilarang melakukan perbuatan asusila, misalnya perzinahan.
4)      Dilarang meminum, minuman yang memabukan (minuman keras).
Adapun kewajiban khusus para anggota Sangha (orde pendeta) selain lima macam tersebut diatas ditambah lagi dengan 5 macam larangan yaitu:
1)      Dilarang makan dan minum diwaktu yang dilarang (misalnya waktu berpuasa).
2)      Dilarang mendatangi tempat-tempat yang dipergunakan untuk hidup makisat (misalnya tempat hiburan, pertunjukan-pertunjukan).
3)      Dilarang menghias diri (misalnya dengan pakaian baik memakai hiasan emas, belian dll)
4)      Dilarang tidur diatas tempat tidur yang baik.
5)      Dilarang menerima hadiah-hadiah yang berupa uang dan lain-lain benda berharga.
Sepuluh larangan tersebut kemudian disebut dengan “DASA SILA” (10 dasar).[5]
Pengertian Sadha dan Panca Sadha
a.      Kata Saddha adalah sebutan dalam bahasa Pali atau sradha sebutan dalam bahasa sansekerta.
Arti kata Saddha atau Sradha ialah keyakinan atau kepercayaan-Benar (confident).
b.      Dalam ajaran agama Buddha, sesungguhnya menekankan suatu kepercayaan yang ditimbulkan oeh suatu yang nyata. Inilah yang disebut dengan Saddha. Atau dapat diartikan sebagai keyakinan yang telah mencakup pengertian percaya di dalamnya.
Jadi kata Saddha itu, dapat juga diartikan sebagai:
1)      keyakinan
2)      kepercayaan-Benar
3)      keimanan dalam Bakti
c.       saddha bukanlah suatu kepercayaan yang membuta, melainkan suatu kepercayaan yang dimiliki para siswa dalam sekolah menengah, dimana siswa-siswa yakin akan adanya atom dan molekul. Tetapi mereka tidak dapat membuktikannya. Mereka terima itu karena percaya pada para sarjana yang menguraikannya. Tetapi kepercayaan uni tidak dapat disebut kepercayaan membuta. Di perguruan tinggi atau Universitas mereka mendapat kesempatan untuk melakukan percobaan untuk menguji kebenaran teori ilmu alam dan kimia tadi.
Demikian pula siswa agama Buddha pada tingkat permulaan yakin akan kebenaran beberapa ajaran Dhamma yang mereka dengar dari guru agamanya. Tapi setindak demi setindak dalam perjalanan mereka diatas jalan yang ditunjuk YMS Buddha Gautama akan membawanya pada kebenaran ajaran Dhamma yang tiada bandingnya.

Saddha Mengandung Tiga Unsur
Salah seorang pujangga Buddhis yang terkemuka, yang hidup abad ke IV bernama Asanga dan telah mengatakan bahwa Saddha itu mengandung tiga unsure yaitu:
1)      keyakinan kuat terhadap sesuatu hal.
2)      Kegembiraan mendalam terhadap sifat-sifat yang baik.
3)      Harapan memperoleh sesuatu di kemudian hari.

Bedanya Kepercayaan dengan Saddha
a)      Persoalan kepercayaan akan timbul bilamana kita dapat melihat sesuatunya dengan betul dan nyata.
Pada saat kita melihat, persoalan kepercayaan itu tidak aka nada lagi. Bila saya katakana kepada anda bahwa menyembunyikan sebuah mustika di telapak tangan yang saya genggam, persoalan kepercayaan akan segera timbul, sebab anda tidak melihatnya denga mata anda sendiri. Tetapi bila saya buka genggaman tangan tadi dan memperlihatkannya mustika itu kepada anda, maka persoalan kepercayaan itu tidak akan timbul.
Dalam hubungan ini teringatlah kita kepada sesuatu pepatah kuno penganut Buddha yang berbunyi sebagai berikut:
      “Mengalami sendiri seperti orang melihat satu mustika di telapak tangan”.
b)      Persoalan Saddha akan timbul bilamana kita dpat melihat sesuatunya dengan betul dan nyata. Tetapi haruslah diingat bahwa Saddha ini bukanlah suatu kepercayaan seperti yang di mengerti orang pada umumnya.[6]

Panca Saddha (Lima Keyakinan umat Buddha)
1)     Keyakinan Terhadap Sang Hyang Adhi Buddha, Para Buddha
Tuhan dalam agama Buddha bukanlah hal yang baru, melainkan hal yang telah lama di kembangkan, sejak pada abad ke IV M dari Negara bagian Benggala, tempat kota kelahiran Acarya Asangha.[7]
Pengaruh  Tantra menimbulkan pada Mahayana ajaran tentang Adhi Buddha, yaitu Buddha yang pertama, yang dipandang  sudah ada pada mula pertama, yang tanpa asal, yang berada karena dirinya sendiri, yang tidak pernah tampak karena berada di dalam Nirwana.
Hakikat Adhi Buddha adalah terang yang murni. Ia timbul dari Sunyata, kekosongan. Dengan lima macam permenungan (dyana) sang Adhi Buddha mengalirkan dari dirinya lima Buddha, yang disebut dyani Buddha, yaitu wairocana, Aksobhiya, Ratnasambhawa, Amithaba, dan Amoghasiddhi. Para dyani Buddha ini dipandang menguasai daerah-daerahnya sendiri, yang disebut Buddha ksetra. Daerah-daerah itu ada yang digambarkan seperti alam yang murni dan ada yang kurang murni, sesuai dengan tugas Dyani Buddha masing-masing. Di dalam daerahnya masing-masing itu mengajarkan Dharmanya kepada para makhluk dan menolong manusia untuk mendapat pencerahan.[8]
Diatas Panca Dyani Buddha yang memancarkan Bhodisatwa dan manusia Buddha tersebut  terdapat sesuatu yang tertinggi, permulaan yang tanpa ada yang mendahuluinya, yaitu yang disebut Adhi Buddha, atau Tuhan Yang Maha Esa Menurut kepercayaan aliran Mahayana.
Hubungan Dyani Buddha, Bhodisatwa dan Buddha dunia tersebut sangat erat dan membentuk kelompok yang mempunyai tugas sendiri-sendiri dipenjuru dunia sesuai dengan arah mata angin dan masa masing-mmasing ketiganya terkait menjadi satu dan tidak bisa dipisah-pisahkan, sebagaimna digambarkan dengan sangat jelas pada patung Bhodisatwa avalokatisvara di Candi Mendut. Dalam kepercayaan aliran Mahayana, jumlah Dyani Buddha, Bhodisatwa dan manusia Buddha ada lima. Masing-masing kelompok bertempat di salh satu penjuru dunia, sesuai dengan arah mata angin, dan salah satu Buddha bertempat di titik pusatnya. Mereka berada dan bertugas  dalm salah satu masa diantara masa-masa yang jumlanya juga ada lima. Untuk masa sekarang, yang bertanggung jawab adalah Dyani Buddha, Amitabha, Bhodisatwa avalokatiswara, dan Manusia Budha Gautama.
Dari pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa doktrin Adhi Buddha dalam aliran Mahayana merupakan doktrin yang berusaha yang mempersonifikasikan konsep kebuddhaan sebagai Tuhan atau persembahan tertinggi. Doktrin ini sangat berbeda dengan konsep ketuhanan agama Buddha yang mula-mula, seperti yang dipertahankan aliran Theravada atau Hinayana.[9]
Sebagaimana kita ketahui, banyak agama-agama didunia ini memfokuskan perhatiannya terhadap pemujaan kepada Tuhan dan makhluk-makhluk suci lainnya, namun para umat Buddha di dunia telah memfokuskan pada tokoh Buddha atau Sidharta Gautama—seorang manusia yang menemukan bagaimana membawa pencerahan dari penderitaan dan keluar dari lingkaran hidup dan mati. Cara umat Buddha untuk berhubungan dengan Buddha adalah melalui penghormatan, sebagaimana orang lain dapat memuja kekuatan-kekuatan diluar alam atau dewa-dewa yang mereka yakini dapat memberikan pertolongan kepadanya dan sanak keluarganya.[10]
Ajaran agama Buddha bertitik tolak dari kenyataan yang dialami manusia dalam hidupnya. Ajaran tidak di mulai dari prinsip yang transcendent, yang mempersoalkan tentang Tuhan dan hubngannya dengan alam semesta dan segala isinya, melainkan dimulai dengan menjelaskan tentang dukha yang selalu menyertai hidup manusia dan cara membebaskan diri dari dukha tersebut. Dalam beberapa naskah pali dan sansekerta  disebutkan bahwa, sang Buddha selalu diam apabila ditanya oleh pengikutnya tentnag Tuhan, ia menolak dan tidak mempersoalkan tentang Tuhan, melainkan selalu menekankan pada para pengikutnya agar mempraktekan sila ketuhanan. Sepeninggal Buddha persoalan Tuhan juga bukan merupakan persoalan yang dianggap sangat penting dan mendesak dibicarakan dalam pasamuan agung pertama dan kedua. Masalah yang sangat penting yang dibicarakan dalam dua kali pasamuan itu adalah mengenai Dharma dan Vinaya. Kedua masalah inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya beberapa mazhab besar dalam kalangan umat Buddha.
Sekalipun demikian, benih-benih ajaran tentang Tuhan dalam agama Buddha dapat ditelusuri dari adanya perbedaan pemahaman tentang tingkat-tingkat keBuddhaan yang mulai muncul pada pasamuan agung kedua di Vaisali. Aliran Staviravada yang ortodoks menekankan bahwa tingkat-tingkat kebuddhaan adalah buah dari usaha yang tekun dalam menjlankan ajaran Sang Buddha, sedangkan Mahasanghika menekankan bahwa benih-benih kebuddhaan telah ada pada setiap makhluk dna hanya menunggu diwujudkan dan dikembangkan.[11]
Bikkhu CHANDRAKIRTI, seorang Bhikkhu Indonesia, pada abad ke-X M telah menulis naskah “NAMASANGITI” yang membahas tentang sifat-sifat dari pada sanghyang Adhi Buddha. Naskah tersebut adalah sebagai pengungkapan kembali tentang naskah lama abad ke-IV M yang di prakarsai oleh Bhikkhu Acarya Asangha dari Bengalora, pendiri dari aliran Yogacara. Dari beliaulah lahirnya doktrin “ADHI BUDDHA” ; sebagai pendalaman ajaran Mahayana yang telah di beri landasan oleh Bhikkhu Asvaghosa, yang pada mulanya berasal dari seorang Brahmana, ahli Veda.
Naskah Theisme dalam agama Buddha juga telah diperkenalkan pula dalam naskah-naskah di Indonesia, diantaranya dalam naskah “KUNJARAKARMA” dari Kediri dan naskah SANGHYANG KAMAHAYANIKAN karya Mpu Sri Warana Sambhara Surya dari kerajaan Wangsa ICANA (sendok). Dalam naskah terakhir ini, nama lain dari Adhi Buddha adalah Bhatara Buddha.
Istilah Adhi Buddha digunakan untuk menamakan sumber kebuddhaan  dan istilah ini ditemukan di Indonesia maupun Nepal dan Tibet.[12]
Kemaha kuasaan Sanghyang Adhi Buddha dimanifestaskan kedalam hukumnya yang disebut hukuum Kasunyataan. Hukum Kasunyataan ini adalh hukum Tuhan YME, yang kekal abadi, yang mengatasi waktu, tempat dan keadaan.
Semua yang tercipta tunduk kepada hukum Kasunyataan ini, dan tidak ada seorangpun yang dapat membebakan dirinya dari berlakunya hukum kasunyataan ini. Melalui hukum  Kasunyataan inilah Tuhan YME memperkenalkan kekyasaannya dan tidak ada yang aka mampu menentang hukum Kasunyataan ini, baik ia seorang manusia ataupun dewa, terkecuali orang yang telah mencapai kebebasan mutlak (Nibbana).[13]
Bukan sejarah tertarik untuk membicarakan sang Buddha, umat Buddha sendiri juga banyak membicarakan tingkat-tingkat kebuddhaan. Umumnya mereka berbeda dalam hla memandang tingkatan kebuddhaan tersebut. Pembicaraan tentang tingkat kebuddhaan ini sudah mulai muncul pada pasamuan agung kedua di vaisali. Aliran Staviravada yang ortodoks melihat bahwa tingkatan-tingkatan kebuddhaan adalah buah dari usaha yang tekun dalam menjalankan ajaran-ajaran Buddha, sedangkan menurut aliran Mahasanghika menekankan bahwa benih-benih kebuddhaan telah ada pada makhluk dan hanya menunggu untuk di wujudkan dan di kembangkan (Abdurahman 1988; 114-115).[14]
Mengenai para Buddha, terdapat 27 Buddha-Buddha yang terdahulu yaitu:


1.      Tahankara
2.      Medhankara
3.      Saranankara
4.      Dipankara
5.      Kondana
6.      Mangala
7.      Sumana
8.      Revata
9.      Shobitha
10.  Anomadasi
11.  Paduma
12.  Narada
13.  Padumutara
14.  Sumedha
15.  Sujata
16.  Piyadasi
17.  Attadasi
18.  Dhamadasi
19.  Sidhattha
20.  Tissa
21.  Phussa
22.  Vipasi
23.  Sikhi
24.  Veshabu
25.  Kakusandha
26.  Konagamana
27.  Kassapa


Buddha Gautama adalah Buddha yang terakhir atau yang ke 28
Buddha yang akan datang adalah ialah Bhodisatwa Maitreya, yang berarati : “yang penuh kasih sayang”.
Semua Buddha mengajarkan ilmu yang sama yaitu Dhamma atua Kasunyataan dan kebajikan untuk kebebasan mutlak dari penderitaan, Nibbana.
Baik dalam aliran Hinayana maupun aliran Mahayana, kedua-duanya mengajarkan pelajaran dan tujuan yang sama, hanya mungkin upacara-upacara keagamaannya yang berbeda-beda.[15]


2)      Bhodisatwa dan arahat

Bhodisatwa
Secara harfiah Bhodisatwa berarti orang yang hakikat atau tabiatnya adalah bodhi (hikmat) yang sempurna. Sebelum Mahayana timbul, penegrtian Bhodisatwa sudah dikenal juga, dan dikenalkan juga kepada Buddha Gautama, sebelum ia menjadi Buddha. Disitu Bodhisatwa adalah orang yang sedang dalam perjalanan untuk mencapai hikmat yang sempurna, yaitu orang yang akan menjadi Buddha. Jadi semula Bhodisatwa adalah sebuah gelar bagi tokoh yang ditetapkan untuk menjadi Buddha. Didalam Mahayana Bhodisatwa adalah orang yang sudah melepaskan dirinya dan dapat menemukan sarana untuk menjadikan benih pencerahan tumbuh dan menjadi masak pada diri orang lain. Seorang Bhodisatwa bukan hanya merenungkan kesengsaraan dunia saja melainkan juga turut merasakannya dengan berat. Oleh karenanya  sudah mengambil keputusan untuk mempergunakan segala aktivitasnya sekarang dan kelak guna keselamatan dunia. Karena kasihnya pada dunia maka segala kebajikannya dipergunakan untuk menolong orang lain.
Cita-cita tertinggi di dalam Mahayana ialah untuk menjadi Bhodisatwa. Cita-cita ini berlainan sekali dengan cita-cita Hinayana, yaitu untuk menjadi arhat, yaitu orang yang sudah berhenti keinginanya, ketidaktahuannya, dan sebagainya, dan oleh karenanya tidak ditaklukan lagi pada kelahiran tumimbal kembali. Seorang arhat hanya memikirkan kelepasan diri sendiri[16]
Dengan daya pengetahuan dan permenungan para Dyani Bhuddha melahirkan lima Bhidisatwa, yang disebut dyani Bhodisatwa, yaitu wairocana melahirkan Samantabhadra, Aksobhiya melahirkan Wajrapani, Ratnasambhawa melahirkan Ratnapani, Amithaba melahirkan padmapani atau Awalokiteswara, dan Amoghasiddi melahirkan Wispapani. Para Dyani Bhodisatwa ini adalh para pencipta alam bendani. Dunia yang mereka jadikan dapat binasa. Ada tiga yang sudah binasa. Dunia yang sekarang adalah dunia yang ke empat, hasil karya awalokiteswara, yang memiliki Amithaba sebagai pelindungnya.[17]


Arahat
Permulaan agama Buddha menanamkan ide rangkap mengenai arhatva dan nirvana. Buddha Gautama mengajarkan kepada murid-muridnya yang pertama kai dengan khotbah enpat Kasunyataan Mulia dan Delapan jalan utama serta menekankan pada ketidak-kekalan dan tiada kepemilikan dari semua unsur pokok mengenai pribadi manusia. Para sisiwa ini dipanggil arhat, dan Buddha sendiri diuraikan sebagia seorang arhat. Konsepsi mengenai arahat dikembangkan dan diperinci secara perlahan-lahan oleh guru dan penggantinya. Jadi seorang arahat juga diharuskan menegerti formula mengenai duabelas nidanas (sebab-akibat). Dia ditetapkan sebagai seorang yang telah mencabut tiga asravas (asava = minuman keras, dosa, dan kesalahan dari keinginan akan rasa, suka akan yang ada, dan ketidak tahuan, dan juga tambahan ke-empat asrava mengenai pikiran yang spekulasi. Dia melatih tujuh faktor penerangan (shambojjhanga): kesadaran, penelitian, energi, kesenangan, ketenangan, konsentrasi, dan ketenangan hati.[18]
Arhat juga menjadi cita-cita tertinggi dari aliran Hinayana, yaitu orang yang sudah berhenti keinginannya, ketidak tahuannya, dan sebagainya, dan oleh karenanya tidak ditaklukan lagi pada kelahiran kembali.[19]
Seorang arahat yang telah terbebas, mengetahui dia tidak akan telahir kembali. Dia telah menyelesaikan dengan baik apa yang dikerjakan. Dia telah melepaskan bebannya. Dia hidup pada kehidupan suci. Dia mencapai kebersihan-kemurnian dan akhir emansipasinya dari pikiran hati. Dia sendiri, menyendiri, bersemangat, bersungguh-sungguh, menguasai dirinya sendiri.
Seorang arhat seperti itu juga pergi sebagai pengkhotbah dan mengajarkan ajaran Buddha kepada orang-orang. Gurua itu sangat menganjurkan kepada para siswanya untuk pergi berkelana dan berkhotbah kebenaran demi kebaikan dan pembebasan untuk orang banyak, karena dia mengasihi teman-temannya semakhluk dan menaruh kasihan kepada mereka.
Hal seperti itu adalah ide arahat itu, sebagaimana dimengerti selama tiga abad setelah Buddha Gautama parinibana.
Tetapi nyatanya bahwa para bhikku agama Buddha mulai mengabaikan aspek pentng tertentu dari pada itu dalam abad ke-2 SM, dan menekankan beberapa Tugas terhadap pengeluaran dari pada yang lainnya. Mereka menjadi lebih mementingkan diri dan tafakur, dan tidak menunjukan dengan jelas semangat lama itu demi tugas mengajar dan mneyebarkan agama atau misionari di antara manusia. Mereka nampaknya hanya memperhatikan demi pembebasan bagi mereka sendiri dari dosa dan duka. Mereka tidak membedakan terhadap tugas untuk mengajar dan membantu semua makhluk manusia.
Ajara Bhodisatwa diumumkan secara resmi oleh beberapa pemuka agama Buddha sebagai suatu protes terhadap kekurangan dari semangat spiritual yang benar ini dan altruism (sifat mementingkan kepentingan orang lain) di antara para bhikku pada waktu itu. Kedinginan dan kejauhan dari para arahat itu menunjukan suatu pergeseran yang sesuai dengan ajaran lama mengenai menyelamatkan semua makhluk. Ide Bhodisatwa dapat dimengerti hanya menantang latar belakang ini mengenai seorang saleh dan tenang, namun tidak aktif dan golongan viharawan atau viharawati yang tidak cekatan.[20]
Kesimpulan
Tidak dapat dikatakan bahwa di dalam ajaran agama Buddha seperti yang terdapat di dalam kitab-kitab Pitaka terdapat ajaran tentang Tuhan atau tokoh yangn di pertuhankan. Tujuan hidup bukan untuk kembali kepada asalanya, yaitu Tuhan, melainkan untuk masuk kedalam nirwana, pemadaman, suatu suasana yang tanpa kemauan, tanpa perasaan, tanpa keinginan, tanpa kesadaran, suatu keadaan dimana orang tidak lagi terbakar oleh nafsunya. Itulah situasi damai. Oleh karena itu maka ada ahli-ahli agama yang tidak mau mengakui,bahwa Bhuddisme adalah suatu agama. Bhuddisme adalah suatu falsafah, suatu usaha akal manusia untuk mencari kedamaian dengan rumusan-rumusan yang sistematis mengenai sebab dan akibat.
Akan tetapi kami kira pendapat yang demikian itu adalah keliru. Memang, harus di akui, bahwa sebutan Tuhan atau tokoh yang dipertuhankan tidak ada. Yang ada adalah nirwana, pemadaman, situasi padam, bukan tokoh yang memadamkan. Tak ada gagasan tentang suatu pribadi yang ada dibelakang suasana damai itu.
Tidak ada gagasan tentang pemebri hukum, yang ada adalah hukum, tata tertib (karma) baik yang alamiah maupun yang moril. Tiada gambaran tentang yang disembah dan yang menyembah. Sekalipun demikian, di belakang segala pernyataan yang negatif itu terdengar juga seruan manusia akan yang dipertuhan tadi.
Dilihat dari keyakinan Kristen dapat dikatakan, bahwa Buddha Gautama meraba-raba dan mencari kepada “Yang Tidak Jauh dari padanya”. Berdasarkan kenyataan bahwa didalam ajaran Buddha manusia rindu akan kelepasannya serta mencari-cari kan “Yang tak dilihatnya” dapat dikatakan, bahwa Buddhisme adalah suatu agama, denganya manusia berusaha mencari Tuhanya. Tuhan atau tokoh yang dipertuhan terdapat juga didalamnya.
Hanya Tuhan itu sukar ditemukan. Tokoh itu dikaburkan menjadi sesuatu yang tak berpribadi. Itulah sebabnya tidak ada hubungan aku-Engkau antara manusia dengan yang dipertuhan. Tetapi bagaimanapun Bhudisme adalah suatu ajaran kelepasan, suatu ajaran yang ingin membawa manusia pada jalan kelepasan karena merasa bahwa hidup ini tidak bebas.[21]





Daftar Pustaka
  Arifin M.Ed, H.M., Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, Jakarta: PT Golden Press, 1995.
Ali, Mukti H.A., Agama-Agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988.
Hadiwijono, Harun., Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2010.
Kebahagiaan Dalam Dhamma, Jakarta: Majelis Buddha Mahayana Indonesia
T, Suwarto., Buddha Dharma Mahayana, Jakarta: Majelis Agama Buddha Indonesia, 1995.
Tanggok, M Ikhsan., Agama Buddha, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009.




Prof. H.M. Arifin M.Ed “Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar “ (PT Golden Press- Jakarta 1995) cet 1 hal 95
[2]  Waktu kosmik adalah kalpa. Satu kalpa adalah suatu periode waktu yang sangat  lampau yaitu 4326 juta tahun.
[3] Drs. Suwarto T. “Buddha Dharma Mahayana” (Majelis Agama Buddha Indonesia-Jakarta 1995)cet 1 hal 50
Drs. Suwarto T. “Buddha Dharma Mahayana” (Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia. Palembang 1995) cet 1 hal. 49-50
[5] Prof. H.M. Arifin M.Ed “Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar” hal 96-99
[6] “kebahagiaan Dalam Dhamma” (Majelis Buddhayana Indonesia) hal 15-16
[7] “kebahagiaan Dalam Dhamma” (Majelis Buddhayana Indonesia) hal 337
[8] Dr. Harun Hadiwijono “Agama Hindu dan Buddha” (Gunung Mulia-Jakarta 2010)cet17 hal 94-95
[9] H. A. Mukti Ali. “Agama-Agama Di dunia” (IAIN Sunan Kalijaga Press-Yogyakarta1988)cet 1 hal 120-121
[10] M. Ikhsan Tanggok. “Agama Buddha” (Lembaga Penelitian UIN  Jakarta, Ciputat Jak Sel. 2009) cet 1 hal. 33
[11] H. A. Mukti Ali “Agama-agama di Dunia” (IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta. 1988) cet 1. Hal 114-115
[12] ”Kebahagiaan Dalam Dhamma” hal 337-339
[13] ”Kebahagiaan Dalam Dhamma” hal 341
[14] M. Ikhsan Tanggok ‘’Agama Buddha” hal42
[15] “Kebahagiaan Dalam Dhamma” hal 336
[16] Dr. Harun Hadiwijono “Agama Hindu dan Buddha” (PT BPK Gunung Mulia-Jakarta 2010) cet 17 hal91-92
[17] Dr. Harun Hadiwijono “Agama Hindu dan Buddha”hal 95
[18] “Buddha Dharma Mahayana” hal 131
[19] Harun Hadiwijono. Hal 91
[20] Dr. Suwarto T. “Buddha Mahayana” hal132-133
[21] Harun Hadiwijono ‘’Agama Hindu dan Buddha”hal101-102

0 komentar:

Poskan Komentar